Banyaknya kaum muda yang dijangkiti dengan penyakit hedonisme, lebih
mengedepankan kenikmatan duniawi, bahkan sampe rela mengorbankan
segalanya demi mendapatkan kenikmatan tersebut. Mereka rela membeli tas,
sepatu, pakaian branded demi mementingkan gengsi dan demi mendapat gelar “waah”.
Pergaulan yang semakin hari semakin menyesakkan dada, dan peran
orangtua yang dalam mendidik anak-anaknya sudah tidak terlihat lagi,
peran orangtua yang seharusnya menjadikan seorang anak yang faham agama
dan berkepribadian islam sangat jauh panggang dari api. Dan tentu saja
dibarengi dengan lingkungan yang dengannya kemaksiatan dan kejahatan
semakin tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.
Anak-anak sedari kecil ditinggal dirumah oleh orangtua yang pergi
bekerja mencari penghasilan. Lebih-lebih adalah ibu, yang banyak
menggantikan posisi ayah, berada di sektor publik bahkan sosialita,
meninggalkan anak di rumah diasuh oleh seorang pembantu.
Hingga sang anak pun sangat kurang kasih sayang, tumbuh besar dengan
asuhan dari pembantu, atau asuhan dari ibu-ibu tempat penitipan anak.
Tak heran jika besarnya hanya menjadi generasi pemuda yang rusak terikut
arus perkembangan zaman.
Ketika anak tumbuh remaja, bergaul bebas tanpa batas, jauh dari
kontrol orangtua. Mereka lebih bahagia hidup bersama teman-temannya baik
di sekolah maupun di rumah, bebas melakukan apa yang mereka inginkan
tanpa berfikir apa yang akan terjadi.
Di sekolahpun yang notabene adalah sekolah negeri nonkeislaman bukan
pula dididik dengan nilai-nilai keislaman, namun jauh dari pada itu.
Pelajaran agama hanya didapatkan dua jam pelajaran perminggu, itupun
jika guru tidak terlambat datang, atau bahkan ada yang tidak datang sama
sekali.
Pelajaran agamapun semakin berkurang. Jikapun ada pendidikan
karakter, tidak memberikan efek yang signifikan terhadap perilaku
generasi muda saat ini. Begitu juga dengan lingkungan, yang banyak
memfasilitasi dilakukannya kemaksiatan, yang semakin menjerumuskan
kepada lembah kenistaan. Sebagai contoh, ketika anak pulang sekolah,
bermain dengan teman, atau mengunjungi warnet untuk mencari kesenangan,
ditambah lagi dengan banyaknya warnet dengan kebebasan akses video
porno, sedangkan orangtua tidak memberikan kontrol kepada anaknya, atau
bahkan orangtua masih sangat jauh dari anaknya, ini tidak lain akan
menjadikan generasi ini sebagai generasi rusak yang semakin bobrok.
Sampai kepada tidak adanya aturan dan hukum yang tegas dari negara
dalam mengontrol masyarakatnya, yang melakukan kejahatan dan
kemaksiatan, dikarenakan asas kebebasan.
Hukum yang diterapkan pun adalah hukum yang masih tebang pilih, jauh
dari keadilan. Banyak tindak kejahatan yang hanya mandek sampai ke
pengadilan, tanpa ada eksekusi. Dan bahkan pemerintah sendiri
menyediakan sarana untuk tindakan kemaksiatan seperti aborsi dan juga
pelaku seks bebas.
Apa Masalahnya?
Pelaku kemaksiatan tidak jarang adalah umat muslim. Padahal dalam
Islam sendiri sudah termuat aturan yang sangat luar biasa untuk umatnya.
baik dalam hal mengatur dirinya sendiri dan juga mengatur sesamanya.
Manusia diajarkan untuk tawaddu’, sabar, ikhlas, dan selalu senantiasa
bersyukur, menahan diri dari hawa nafsu.
Namun sayang dalam hal ini, tak banyak manusia yang mau untuk
melakukannya, nafsu birahi dijadikan sebagai hal yang harus dituruti.
Hingga tak kenal medan tak kenal waktu, bahkan sampai menghalalkan
segala cara demi meraih apa yang diinginkan.
Selain itu tak ada pula kontrol dari masyarakat atau lingkungan,
seperti tidak adanya aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar ketika seorang
muslim atau muslimah melakukan sebuah kemaksiatan. Misalnya saja ketika
ada yang berdua-duaan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram,
bukannya dicegah, tapi malah difasilitasi. adanya warnet-warnet tempat
mengakses film/ video porno sebagai bukti bahwa umat islam sangat jauh
dari aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar.
Orangtua yang menajadi kontrol pertama bagi anak-anaknya tidak ada
sama sekali, ada bahkan orangtua yang memfasilitasi anaknya dalam
bermaksiat, merasa aneh ketika anaknya tidak pacaran, tidak ada teman
dekat (pacar).
Dan yang paling parahnya lagi adalah tidak adanya kontrol dari
negara. Negara memberikan kebabasan yang sangat luar biasa kepada
rakyatnya dalam berbuat dan bertindak, meskipun memang ada beberapa yang
diberikan sanksi, namun tak kunjung juga merubah keadaan.
Sebagai umat Islam yang sangat menyayangi agama ini, tentu kita akan
terus merasa terusik dengan banyaknya pemuda muslim sebagai pelaku dosa
besar, seperti berzina, dan membunuh anaknya sendiri (aborsi). Jika ini
terus menerus dibiarkan apalah jadinya generasi kita ke depan?
Umat Islam memang harus segera disadarkan agar mengambil Islam tidak
hanya sebagai sebuah agama ritual belaka, namun juga sebagai sistem
kehidupan, yang dijadikan solusi untuk permasalahan yang ada.
Harus adanya aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah
masyarakat. Sehingga tidak ada lagi kekacauan yang menganggap benar
menjadi salah, yang salah menjadi benar. Hingga kemaksiatan yang terjadi
di tengah-tengah masyarakat dianggap biasa. Dengan adanya aktivitas
kontrol dari masyarakat ini umat Islam akan senantiasa terjaga dalam
ketakwaannya, karena jika melakukan sebuah kemaksiatan kecil, akan
menjadi sorotan dalam lingkungannya.
Dan yang lebih penting lagi adalah harus adanya negara yang menerapkan syari’at Islam secara kaffah.
Oleh: Nur Albaniyah
(fauziya/hidayatullah/muslimahzone.com)
Akhir-akhir
ini banyak diberitakan baik di media cetak dan juga elektronik berita
sekelompok siswa/i SMP di Tanjung Pinang menonton bareng “film porno”
yang dilanjutkan dengan pesta seks ketika tidak ada jam pelajaran.
Terahir kabar beredarnya video mesum siswi salah satu SMP di Gunung
Kidul.
Ini bukan kasus pertama catatan buruk remaja kita. Hal ini menjadi
bukti betapa rusaknya generasi kita saat ini. Pergaulan kaum muda ini
semakin acak kadul tidak karuan, semakin bebas, tidak ada kontrol sama
sekali, baik dari dalam individu tersebut, teman, orangtua, bahkan
negara.





0 komentar:
Posting Komentar